- Kalo umur aku kurang/lebih dari 15 tahun, masih boleh daftar ngga, Kak? (boleh, asal masih kelas 1 SMA/sederajat, red.)
- Di persyaratannya kan harus berprestasi dan aktif berorganisasi, tapi prestasi saya cuma sedikit, bisa daftar ngga ya?
- Harus jago bahasa Inggris ya?
- Aktif berprestasi ya? Tapi aku ngga pernah ranking di sekolah… Gimana, Kak?
- Harus jago kesenian daerah gitu ngga, Kak? Apa aku harus les nari dulu?
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sering diutarakan para calon pendaftar kepada kami relawan-relawan AFS. Jangan salah, pertanyaan seperti itu boleh saja, bahkan wajar jika kalian merasa cemas, kurang percaya diri, atau minder membaca persyaratan-persyaratan yang terdengar ‘tinggi’ tersebut.
Saya sendiri jadi teringat pada beberapa waktu yang lalu, ketika saya masih ada di posisi kalian. Rasa excited ketika mendengar presentasi yang diberikan returnee AFS saat itu, dibalas dengan kecemasan melihat prestasi saya (akademis dan non-akademis) yang terasa biasa-biasa saja dibanding teman-teman yang lain. Apalagi ketika mengetahui bahwa dari sekolah saya (SMU Negeri 3 Bandung) yang mendaftar banyak sekali, dan banyak di antara mereka yang pernah juara umum dan tidak pernah lepas dari peringkat 10 besar di sekolah. Rasanya nyali jadi ciut.
Tapi yang membuat saya menolak untuk menyerah adalah karena menjadi siswa pertukaran pelajar merupakan cita-cita saya sejak dulu. Saya pernah membaca di majalah kisah-kisah orang-orang hebat negeri ini yang kesuksesannya diawali dengan mengikuti program pertukaran pelajar dari AFS, dan saya ingin sekali suatu hari menjadi seperti mereka. Jika saat itu saya berkecil hati dan mengurungkan niat untuk mendaftar, sama saja saya menyerah terhadap cita-cita yang ingin saya raih sejak lama, bukan?
Maka saya menolak untuk menyerah. Hey, mendaftar saja dulu. Tidak ada salahnya, kan?
Karena, bocoran saja ya, prestasi dan aktivitas di organisasi merupakan nilai tambah yang kita miliki jika kita lulus semua proses seleksi. Proses seleksi yang diadakan Yayasan Bina Antarbudaya merupakan sistem yang telah teruji bertahun-tahun mampu menyaring individu-individu berkepribadian kuat dan mau belajar. Jika kalian terpilih nantinya, kalian tidak hanya membawa nama kalian sendiri, tetapi nama Indonesia. Kami ingin mencari putra-putri terbaik bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa depan.
Tapi bagaimana jika saya tidak merasa punya kepribadian kuat?
Kuncinya, Be Yourself. Tidak perlu berpura-pura menjadi seperti orang lain. Sebaliknya, buat para juri tercengang dengan menjadi diri kamu sendiri. Kata kunci yang kedua: Percaya Diri. Dengan kepercayaan diri, aura kamu akan terpancar lebih dari yang kamu bayangkan.
Kata kunci yang ketiga: Determinasi. Tetapkan dalam pikiran bahwa ini merupakan suatu hal yang benar-benar kamu inginkan. Penulis asal Brazil, Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist menuliskan,
“When you really want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”
Artinya ketika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, pikiran kamu akan mengirimkan pesan ke alam semesta. Jika kamu berusaha cukup keras, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk membantu kamu mencapai tujuan tersebut.
Tapi jangan juga jadi tinggi hati. Tetap banyak berdoa dan terus berusaha. Pikirkan juga kemungkinannya jika memang alam semesta belum menghendaki kamu untuk mencapai tujuan tersebut; sehingga jika gagal, kamu tidak kecewa terlalu jauh.
Jadi, lihat kembali pertanyaan di atas. Jika kamu pernah memikirkan satu di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka ingatlah, calon peserta yang lain mungkin juga memikirkan hal yang sama. Yang membedakan ialah keberanian untuk mengatasi kecemasan tersebut, dan terus maju. Intinya, apapun yang kamu ingin capai di dunia ini, yakinlah dengan kemampuanmu dan terus berdoa. Jangan biarkan kecemasan-kecemasan menghalangi diri kamu dari mencapai sesuatu yang kamu inginkan. Selamat berjuang!
– Oktavina Q. Ayun // Returnee YES 04-05 // California, USA.