Announcement: Open House AFS Bina Antarbudaya Chapter Bandung 2012

Halo halo halo!

Akhirnya Open House tiba~ terereret!

Hah?! Apaan tuh Open House?? 

Open house adalah sebuah acara dimana seluruh returnee dari tiap-tiap negara akan berbagi pengalaman mengenai satu tahun yang mereka lalui di luar negeri. Akan ada booth-booth negara yang pastinya keren-keren dan bikin kamu kabita!

Acaranya gratis dan terbuka untuk umum.

Penasaran? Maka datang dan ramaikan!

OPEN HOUSE AFS-Bina Antarbudaya Chapter Bandung
Padi Artground (Jl Dago no 329)
Saturday, 7April 2012
9.30 am-3.30 pm

Explore the World, Explore Yourself!

Sebarkan ya! Klik ini untuk info lebih lanjut ;)

Lifetime Experience

Lima belas tahun, yang bisa saya ingat dari AFS Exchange year adalah menjadi pribadi yang lebih kuat menghadapi tantangan hidup.

Detail kota, aroma, suara dan suasana masih teringat sampai saat ini dan selalu menyisakan kerinduan untuk bisa kembali mengunjungi suatu saat nanti. Amin.

Here we go… some of my journey during the Exhange Year

Host Family : setelah perjalanan 22 jam dari Indonesia ke  Los Angeles lanjut ke Minnesota

Akhirnya saya bertemu dengan Host Family The Orr, ibu saya seorang guru SD yang suka ngajak saya ke Historical Site dan Museum juga ke Islamic Center -Thanks lots mom!

Ayah seorang pendeta yang suka keliling dunia dan tetep down to earth. Adik yang jago main piano masih freshman (kelas 9) di Senior High.

Keluarga yang hangat dan menerima saya apa adanya, walau saya kaku dan keras kepala waktu pertama datang *malu*

Sekolah : di Mound View High School, dengan 2000 students dari berbagai etnis dan saya seorang diri yang berjilbab :D *pastinya* walau bukan seorang diri yang muslim.

Supaya dapet banyak temen langsung memberanikan diri  ikut audisi  Homecoming dan lolos audisi! Allhamdulillah bisa mengenalkan Indonesia  lewat  Tari Pendet.

Ekskul : exchange year for me is a year of learning myself, bertemu dengan orang dengan berbagai ras dan kepribadian selalu menyenangkan, untuk bisa memanfaatkan momen ini, setiap musim  saya ikut eskul, musim fall ikut Volley Ball varsity team jadi managernya sajah :D hihihi..orang gak bisa main volley. Satu hal yang saya pelajari, mereka latihannya super keras, konsisten dan gak ada capeknya. Komitmen nya bangeeettt, sekali sign up untuk ikut eskul, ngga ada alasan untuk gak ikut latihan walau kepala sedang puyeng *pelajaran berharga buat saya untuk gak gampang give up*

Volunteer: untuk Civic Class (PPKN) setiap murid diwajibkan untuk jadi sukarelawan di masyarakat, saya memilih baby sitting di gereja tempat Host Dad bertugas. Momen ini mengajarkan saya untuk lebih sabar sama anak kecil, sebelum ini saya paling ngga bisa gaul dengan anak kecil dan Allah mengajarkan saya untuk suka anak kecil dan belajar menjadi ibu ‘kelak’  *eng ing eng*

Shoveling snow: ikut mengambil tugas dalam pekerjaan rumah host family, belajar peduli dengan kerjaan rumah, saya kebagian bersiin salju di carport, yang saya pikir ringan taunya beraaaatttt, tapi tetep fun! Impian saya sejak kelas 5 SD untuk pegang  salju terwujud dengan indahnya. Allhamdulillah..

Speedskating: mencoba hal baru yang positif selalu menyenangkan, speedskating salah satu eskul musim winter, saya pilih  karena emang ga akan pernah ada eskul semacam ini di Indonesia dan ini juga gampang, seperti main rollerskate aja, lots of fun!!

Duta bangsa: bercerita tentang Indonesia ke anak-anak Elementary School always been fun dan waktu saya tanya, “what do you know about Indonesia?!”  ada yang nyeletuk jawab “my shoes made in Indonesia, it said here, sambil nunjukin sepatunya”, “oh yes!”

Pramuka selalu universal: united eveywhere, di festival girl scout ini, lagi-lagi saya bercerita tentang Indonesia, nari bareng siaga kelas 3  Tari Tortor dari Sumatera Utara dan jualan Bala-bala makanan khas Jawa Barat…laris manissss ceuuu!

Math Club: katanya calculus di sekolah ini terkenal jago di State Minnesota, maka saya pun ambil kelas Calculus. Ternyataaaa saya ga sanggup sodara-sodara, maka menyiasatinya, saya ikut Math Club..heuheu.. kompetisi dari satu High School ke High School yang lain *glek* teteup seneng ikut jalan-jalannya!!

Graduation: momen sakral para Senoir High di Amerika, bisa ikut Graduation seperti bisa merasakan tradisinya, ternyata kebanggaan orang tua di sana bisa menyekolahkan anak sampai SMA dan melepas menjadi manusia mandiri.

Setahun waktu yang sedikit untuk belajar banyak hal, waktu yang berharga untuk ketemu banyak teman dan keluarga baru, termasuk keluarga sahabat saya yang baik hati.

Gak ada penyesalan setitik noda pun walau temen di Indonesia pada lulus dan saya harus kembali ke Indonesia menyelesaikan kelas 3 dengan adik kelas 2, another lifetime experince kan?!! Seru tudemax!!

Friendship: sahabat selama setahun yang selalu mendukung saya, menguatkan saya saat culture shock, melancarkan English,  akan selalu terkenang di hati I miss you Gals lots!!

Dan temen AFS Indonesia yang berangkat bareng ke Amerika sekarang sudah pada sukses mulia hidupnya…I miss you all….

Fariella Julian
@fariellajulian
INAYP USA 1997-1998

Because Smile Always Talks in the Same Language

Terkadang manusia mengkotak-kotakan diri dalam perbedaan bangsa, ras, bahasa, serta agama—tanpa sadar terdapat suatu bahasa universal bernama senyuman. Bahasa sederhana yang dapat mempersatukan manusia.
-

Desember 2008,

Saya adalah murid SMA kelas X yang cukup beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar yang dinaungi oleh Yayasan Bina Antarbudaya Indonesia. Saya dan 60 pemuda Indonesia lainnya berkesempatan mengikuti program JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) short program selama 2 minggu. “Kalian adalah Duta Bangsa, BUKAN turis,” hal ini yang selalu ditekankan oleh kakak-kakak volunteer yang membimbing kami pada masa orientasi. Hal ini yang memaksa kami untuk menjaga nama baik Indonesia.

Hal yang paling berkesan dalam program ini adalah saat saya “menumpang hidup” selama 5 hari di rumah keluarga angkat saya. Pada awalnya saya khawatir karena saya tidak bisa berbahasa Jepang dan orang Jepang terkenal sulit berbahasa Inggris. Boro-boro bisa Bahasa Jepang, Bahasa Inggris saja masih belepotan. Ah, tapi cuek lah, nekat aja!

Tanpa diduga, ternyata saya berkomunikasi cukup lancar dengan keluarga angkat saya. Semua metode komunikasi yang mungkin dilakukan saya lakukan: berbicara Bahasa Inggris dengan perlahan, membawa kamus kemana-mana, serta bahasa tubuh. Ibaratnya, saya menggunakan bahasa tarzan untuk berkomunikasi dengan mereka. Terdengar sulit, tapi komunikasi yang tulus datang dari hati. Hal sekecil perbedaan bahasa bukanlah penghalang untuk sekedar berbicara dan saling mengenal.

Faktanya, saya bisa bermain dan bersenda gurau dengan adik laki-laki saya (10 tahun) yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Mengantarnya pergi les piano  (yang tempatnya satu gedung sama Kumon), mengantarnya latihan softball, bermain, dll. Bahkan Okaa-san saya sampai geleng-geleng kepala karena Kousuke dan saya tertawa terbahak-bahak saat bermain di ruang keluarga—padahal kami tidak berbicara sepatah katapun. Hanya bahasa tubuh, bahasa hati, serta bahasa universal bernama senyuman.

Hari terakhir di rumah keluarga angkat saya, Okaa-san dan Kousuke menemani saya menghadiri Farewell Party. Selama perjalanan di kereta, Kousuke dan saya bermain “tebak arti kata”. Dia mengajari saya bahasa Jepang dan saya mengajarinya Bahasa Inggris. Malam harinya, Okaa-san mengundang teman-teman Kousuke untuk datang ke rumah dan mengadakan pesta perpisahan kecil untuk saya. Hanya pizza, soda, dan senyuman, tetapi sangat bermakna.

Sampai akhirnya saya harus pulang dan meninggalkan mereka. Pagi hari sebelum Kousuke berangkat sekolah, seperti biasa saya mengantarnya sampai depan rumah. Teman-teman Kousuke menjemputnya untuk pergi ke sekolah. Bahasa Indonesianya mah nyamperin. Pagi itu, kami berfoto bersama. Semuanya tersenyum. Some simple happy smiles, because we met as strangers and we left as friends. As family.

Explore the world, explore yourself!

-

Venny Sartika
Returnee JENESYS SP 2008
Teknik Kelautan ITB 2010

Update #SeleksiAFS 2012

 

Halo semuanya, kami dari Bina Antarbudaya Bandung ingin sedikit update tentang proses #SeleksiAFS 2012 hingga saat ini. Pembeli PIN sudah mencapai jumlah 160 orang dengan peminat terbanyak dari SMA 1 Bandung.

Untuk adik-adik yang belum sempat mengunjungi Aria Jipang no. 6 di hari Jumat, Sabtu, atau Minggu sebelumnya, kami masih memberi kesempatan pembelian PIN hingga hari Minggu tanggal 15 April 2012. Jangan sungkan untuk datang karena dengan datang langsung, kalian bisa bertanya mengenai proses seleksi, program, hingga pengalaman-pengalaman exchange dari returnees.

Semakin cepat adik-adik membeli akan lebih baik, karena semakin dekat dengan tanggal 15 April, maka masa berlaku PIN akan semakin sebentar .

Sebagai tambahan,  jangan lupa print kartu peserta, surat izin dari orang tua, dan surat keterangan siswa akselerasi (bila aksel) ketika proses verifikasi.

Seleksi 1 akan diadakan tanggal 29 April 2012 (lokasi menyusul) dan Open House akan diadakan tanggal 7 April 2012.

Jangan lupa untuk follow @binabudbdg. Silakan tanya bila ada hal-hal yang membingungkan. Sebarkan informasi ini ya. Sampai bertemu!

Knowing Who You Are

Halo! Nama saya Aditya Nugraha Nurtantijo, saya dari chapter Bandung, Returnee YES 2010-2011 ke Amerika Serikat. Sebelum saya mulai cerita tentang pengalaman saya, saya punya satu pertanyaan yang dulu selalu saya tanyakan pada diri saya sebelum saya pergi.

“Seandainya kamu punya kesempatan buat pergi satu tahun dan tinggal luar negeri, apa yang kamu cari?”

Sebagian teman saya bilang itu sia-sia, bikin saya mundur satu tahun. Sebagian yang lain bilang itu asik banget, kesempatan buat jalan-jalan keliling dunia. Sebagian yang lain bilang itu kesempatan berharga buat karir saya di masa depan. Tapi buat saya, jauh lebih penting dari itu, ini adalah pencarian diri saya.

Mungkin terdengar berlebihan banget kalo satu tahun dalam hidup bisa dijadiin patokan buat mencari jati diri kita. Tapi ternyata banyak banget hal yang saya dapetin dalam satu tahun di USA kemarin, mungkin jauh lebih banyak dibanding seluruh hidup saya di Indonesia. Bukan karena di Indonesia saya gak bisa dapetin apa-apa, tapi karena saat kita jauh dari comfort zone kita, banyak banget hal kecil tapi penting banget yang selama ini kita abaikan.

Oke sekarang ceritanya.

Setahun kemarin saya habiskan di Silver Creek, NY, USA. Sebuah kota kecil di Western New York, dekat Niagara Falls. Tujuan paling pertama saya adalah main American Football! Ya, bener banget! American Football udah jadi obsesi saya sejak masih kelas X SMA, dan salah satu mimpi saya adalah bisa bermain di stadion NFL (liga pro American Football). Waktu itu banyak temen saya yang ngetawain dan bilang saya freak karena terlalu tergila-gila sama hal yang gak realistis, biarinlah, whatever they say. Dan betapa senangnya waktu saya tahu kalo ternyata saya bisa main American Football di Silver Creek High School. Bukan apa-apa, tapi kebanyakan anak Asia lainnya tidak diperbolehkanuntuk bermain American Football berhubung ini olahraga yang cukup physical dan terutama karena postur orang Asia yang kecil. Beruntung saya punya badan besar, akhirnya saya gabung dengan klub American Football Silver Creek, Silver Creek Black Knights.

Awalnya saya cuma berharap saya bisa jadi bagian dari tim, mungkin ya ngebantuin, ato ikut latihan, apapun deh. Di awal, saya keteteran dengan mereka yang udah main American Football selama belasan tahun, tapi akhirnya saya cukup baik juga dan akhirnya pelatih selalu ngasih saya kesempatan main tiap pertandingan.

Saya ingat saat pertama saya ikut main. Saat pelatih berteriak, “Get in there, Adit!”. Jantung saya berdebar-debar, langsung saya  berlari ke barisan line yang sudah siap melakukan defense, disinari field’s light yang memancarkan cahaya ke seluruh lapangan di kegelapan, diiringi oleh tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton, semua teman-teman, dan keluarga yang tahu ini adalah pertama kalinya saya bermain. Saat itulah saya tahu dan yakin, bahwa mimpi apapun dapat kita raih, entah apapun caranya. Yang kita perlukan hanyalah tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya, kaki yang melangkah lebih banyak dari biasanya, juga otak yang berpikir lebih banyak dari biasanya.

Ternyata belum sampai situ saja, Silver Creek Black Knights terus melaju hingga babak final yang diadakan di Ralph Wilson Stadium, New York. Saya ingat saat saya melangkah ke locker room dan tersadar bahwa di locker room inilah ruang ganti para pemain Pro NFL. Kemudian kami melangkah ke turf yang sangat halus, berbeda dengan lapangan biasa. Kemudian menatap ke atas stadion yang diramaikan penonton, juga big screen yang menampilkan wajah seluruh pemain.

Kami mengakhiri permainan dengan kemenangan 21-14 yang berarti kami adalah Western New York Sectional Champions! Mimpi kecil untuk sekedar menjadi bagian dari tim berubah menjadi pemenang dari sebuah kompetisi. Bahkan saya dapat melangkahkan kaki di NFL Stadium, yang mungkin adalah hal yang sangat langka untuk pelajar SMA dari Indonesia. Sometimes it’s too good to be true, but it is true.

Tentu saja tahun saya tidak hanya diisi dengan American Football. Setelah bertemu dengan banyak sekali orang yang berbeda pandangan, agama, pendapat, cara hidup, bahkan sekedar sense of humor, saya menyadari betapa berharganya semua teman yang saya miliki.

Saya pernah menulis sebelumnya di blog saya, pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari tahun AFS saya adalah “Family and Love is two most powerful things in the world”

Family yang saya maksud di sini adalah semua orang yang dekat dengan kita, yang dapat mendorong kita untuk selalu jadi lebih baik. Semua orang yang berjalan di samping kita, mendorong kita untuk maju saat kita ragu, dan membantu kita untuk naik saat kita jatuh. This is the true meaning of Family. And when the whole world feels like family, world will never be better than that.

Dan tentu saja Love yang saya maksud di sini bukan sekedar basa-basi aja. Rasa cinta, sayang dan peduli terhadap sesama diwakili oleh kata ini. Bisa dibilang host family saya benar-benar mengajarkan Power of Love buat saya. Mereka menerima saya yang sebenarnya orang asing, dengan sangat terbuka. Mengajarkan saya dengan tulus bagaimana cara bertahan, dan mendukung semua yang saya lakukan di USA untuk membuat saya menjadi lebih baik. Bahkan, hostdad saya mengalami kecelakaan saat ski yang membuat mereka mendapatkan sedikit kesulitan finansial, tapi dengan tegas mereka mengatakan tetap akan mempertahankan saya di rumah itu dan semuanya terserah saya untuk pindah ke keluarga lain atau tidak. Tentu saja saya memilih untuk tinggal dan membantu hostdad saya juga semuanya.

Saya ingat saat hari terakhir saya di rumah. Saya menyerahkan sebuah buku kenangan untuk mereka, sekumpulan foto-foto kegiatan yang kami lakukan bersama-sama selama setahun ini. Kami semua menangis, tapi kami tahu bahwa kami akan bertemu lagi. Mereka yang merawat saya selama satu tahun, sama berartinya bagi saya dengan orangtua yang merawat saya selama ini.

AFS memberikan sangat banyak, mungkin terlalu banyak. Tapi semua itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, pengalaman yang membuat saya sadar akan hal-hal kecil di sekeliling saya. Yang pasti, saya berhutang sangat besar atas semua kesempatan yang diberikan kepada saya. Karena itu, jangan pernah ragu untuk meninggalkan rumah dan melihat tempat lain.

Why? Because you might find home, that far away from home.

Jelajahi dunia dan carilah jati dirimu.

-Explore the World, Explore Yourself-

What My Year Abroad Meant to Me

Satu tahun tinggal jauh dari orang tua, kerabat, dan sahabat- sahabat saya ketika saya duduk di bangku SMA merupakan sebuah pengalaman yang berarti dalam hidup saya. Ketika itu saya yang masih berusia 17 tahun dituntut untuk melakukan banyak hal sendirian. Saya dituntut untuk dapat menentukan pilihan, menyelesaikan masalah, berinteraksi di lingkungan baru mulai dari nol, dan semuanya dilakukan sendirian. Namun, semua itu menjadi pengalaman yang merupakan turning point dalam kehidupan saya.

Sebelum keberangkatan saya dalam program YES/AFS, saya adalah tipikal seorang anak SMA yang memiliki teman- teman dekat yang bersama- sama belajar, jalan- jalan, bermain, nongkrong, membolos sekolah, dan berkegiatan lain yang sifatnya tipikal ABG labil. Saya juga merupakan seorang anak yang dekat dengan kedua orangtua dan kedua adik saya, meskipun sering “bertengkar” karena masalah- masalah yang lagi- lagi tipikal ABG labil. Ketika saya berangkat, saya harus berjauhan dengan semua orang yang dekat dengan saya. Ketika keberangkatan saya sama sekali tidak menitikkan air mata karena memang sama sekali tidak ada kekhawatiran yang berarti bagi saya. Ibu saya pun jadi tidak menangis karena saya tidak menangis dan saya larang. Excitement saya pun tidak terlalu besar sebenarnya, namun, secara tidak sadar sebenarnya saya punya banyak ekspektasi dari satu tahun saya di Amerika yang berkaitan engan saya diterima dan akan selalu senang di sana.

Ternyata ekspektasi saya berlebihan, tidak semuanya berjalan mulus ketika saya berada di Amerika. Enam bulan pertama, saya ditempatkan di host family berasal dari Amerika Latin yang kurang menghargai kepercayaan dan agama saya. Saya yang telah berjilbab diminta mereka untuk melepaskan jilbab saya, berkali- kali tidak diberi tahu ketika makanan yang disajikan tidak bisa saya makan, dan saya juga sempat diprotes karena saya shalat terlalu sering. Pada awalnya saya menganggap itu merupakan tugas saya untuk membuat keluarga angkat saya mengerti tentang perbedaan- perbedaan tersebut, namun, setelah empat bulan saya terus menerus diminta untuk melepaskan jilbab dan setelah selama itu pula saya belajar banyak kebudayaan dan tata cara hidup orang Amerika yang selalu menghormati kepercayaan orang lain, selalu mementingkan hak asasi manusia, dan selalu tidak mau “diinjak- injak”, saya akhirnya mengambil tindakan dengan prosedur yang seharusnya, yaitu menghubungi liaison officer dan menceritakan tentang hal tersebut. Namun karena tidak ada respon, saya dan teman saya yang ditempatkan di satu kota dan mengalami hal serupa, akhirnya berinisiatif untuk mencari host family baru bagi kami sendiri. Untungnya kami ditempatkan di Kota Fort Worth, Texas, yang merupakan sister city dari Kota Bandung sehingga kami sempat beberapa kali diundang ke meeting Sister City dan bertemu dengan banyak relasi dimana salah satu dari anggota Sister City Fort Worth- Bandung menjadi host family baru bagi kami berdua. Sebenarnya saya menyesal karena harus menghabiskan waktu empat bulan sampai akhirnya saya mengambil tindakan, namun dari kejadian tersebut banyak hal yang dapat saya pelajari dan saya ambil. Selain itu, cerita saya sempat dimuat di majalah Muslim Girl Magazine terbitan New York City, Amerika Serikat. Majalah tersebut merupakan majalah bagi gadis muslim di Amerika Serikat.

Saya banyak belajar untuk beradaptasi di lingkungan baru, saya belajar tentang keramahtamahan orang Amerika yang selalu menyapa orang- orang, bahkan yang tidak dikenal, saya belajar tentang menghargai perbedaan, saya belajar tentang kebudayaan- kebudayaan baru di keluarga, sekolah, dan bermasyarakat,yang berbeda dari budaya- budaya di Indonesia, yang justru membuat saya sangat menghargai dan mencintai budaya Indonesia. Saya juga belajar menghadapi orang- orang baru, saya belajar tentang courtesy, dan sebagainya. Saya sangat senang akan kebudayaan Amerika yang selalu menghargai dan memuji. Ketika saya menari bali pada suatu meeting Sister City Fort Worth- Bandung, contohya. Saat itu saya diminta menari bali, dan saat itu saya sudah 7 bulan berada di Amerika. Berat badan saya sudah naik 30 pounds atau 14 kg. Saat itu, pakaian tari yang saya bawa dari Indonesia sudah tidak cukup, sehingga saya akali sedemikian rupa agar saya tetap dapat memakainya, namun, pada saat menari, kain tersebut lepas dan terbuka and I fall apart.Untungnya karena saya berjilbab saya mengenakan dalaman sehingga tidak terjadi hal- hal yang lebih mengerikan. Namun, seluruh audiens tetap bertepuk tangan tanpa menertawakan. ”I thought that was a part of the show.” ujar salah seorang dari mereka. Itulah hal yang sangat berbeda dari orang- orang di Indonesia. Hal ini adalah kejadian favorit saya selama di Amerika. Selain itu, salju pertama, prom night, homecoming, football game, dan hal- hal yang menyenangkan yang belum pernah saya rasakan di Indonesia juga saya alami ketika saya berada di sana.

Namun, diantara semua hal yang saya pelajari dari satu tahun di Amerika, hal yang paling bermanfaat saya rasakan adalah saya lebih banyak belajar tentang diri saya sendiri. Saya lebih mengenal diri saya sendiri, kelebihan, kelemahan, dan cara- cara mengatasi kelemahan- kelemahan saya. Saya lebih mengenal apa- apa yang saya sukai dan yang tidak saya sukai serta minat dan bakat- bakat saya yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Saya juga merasa sangat dekat dengan Sang Maha Pencipta ketika saya berada di sana, karena rasanya tidak ada lagi yang dapat menolong saya ketika menghadapi kesulitan dan hari- hari berat saat beradaptasi ketika itu.

Saya meninggalkan Amerika Serikat dengan meninggalkan banyak teman- teman baru yang menjadi sahabat- sahabat baru bagi saya. Ketika itu saya mengikuti ekstrakurikuler Marching Band sebagai Color Guards dan Choir. Dari kedua ekstrakurikuler itulah saya mendapatkan banyak teman- teman yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Kehidupan di Amerika berbeda dengan kehidupan di Indonesia, di Amerika kita sangat mudah mendapatkan teman, karena setiap orang yang kita kenal adalah teman baru bagi kita, mereka akan selalu menyapa ketika berpapasan, namun, mereka bukan sahabat kita, di sinilah sisi individualis mereka, lebih sulit mendapatkan sahabat di Amerika dibandingkan di Indonesia, itulah yang saya rasakan. Namun saya sangat beruntung mendapatkan sahabat- sahabat yang sampai saat ini masih selalu menanyakan kapan saya akan kembali ke sana via facebook.

Liburan bersama teman- teman marching band dan choir Makan malam terakhir sebelum kepulangan dengan host family& kerabat
Selain dari sekolah, saya mendapat banyak sekali relasi dari host family kedua saya. Host dad saya adalah seorang asli amerika, sedangkan host mom saya adalah seorang warga keturunan Indonesia yang sudah lama menjadi US citizen. Mereka adalah keluarga yang family oriented, sehingga sangat berbeda dibandingkan dengan host family saya yang pertama. Host family saya yang kedua ini membuat saya memiliki keluarga baru di Amerika, mereka selalu membuat saya merasa diterima dengan segala perbedaan- perbedaan yang kami miliki.

 

Perjalanan satu tahun saya ditutup dengan lulusnya saya dari SMA di Amerika, Amon Carter-Riverside High School. Mungkin hal tersebut bukan merupakan biggest achievement bagi saya dalam satu tahun, karena bagi saya, biggest achievement saya selama satu tahun disana adalah saya merasa telah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan lebih dewasa dengan tempaan pengalaman- pengalaman yang kurang mengenakkan sehingga saya mampu lebih stand up dan lebih bisa speak up untuk diri saya sendiri, because people don’t understand what we want and need unless we speak up for ourselves.

My year in the States was not only broadening my mind, but more importantly it also helps me know more about myself and love what I have in Indonesia more…

Nadia Greviana
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran 2008
Retunee AFS-YES United States of America 2006-2007 

‘07-’11 JENESYS Programme

Mengutip sebuah kutipan

A traveler without observation is like a bird without wings – Moslih Eddin Saad

membuat gue memutuskan harus mengabadikan perjalanan bersejarah bulan Desember lalu (walaupun ada sayap atau enggak gak bakal ngaruh juga). Yet I know it’s been superbly late to remember everything. Tapi mari kita coba

Bulan Desember lalu, selama tiga minggu (termasuk orientasi) gue dapat banyak banget pengalaman baru. I’ve met delegates all over the country, to represent Indonesia on an international event called ’07-’11 JENESYS Programme with AFS Japan. Tapi berhubung gue nomor ponsel sendiri aja lupa + jurnal gue hilang secara misterius, detil perjalanannya baru bisa gue publikasiin sekarang (tsk.. kayak ada yang peduli aja, Di!)

Oke. Jadi tanggal 3 Desember 2009, delegasi JENESYS Indonesia sampai di Narita International Airport. Menunggu escort dari AFS buat jemput kami ke hotel, yang menurut guide, Marroad International Hotel Narita. Wow. Salah satu escort-nya, Matoko, ternyata pernah pertukaran pelajar ke Yogyakarta, bahkan dikasih nama Dwi. Wow (lagi).

Dan ada perasaan nggak tergambarkan waktu pertama kali turun dari pesawat. Semburat senang, cemas, takut- dicampur jadi satu dalam waktu bersamaan.

Anyway, here I am. Pelajar SMA biasa. Dan ini adalah hari pertama gue menginjakkan kaki setelah 7 jam terbang nonstop, menuju Jepang.

Melihat dunia.

***

Kasta gue termasuk yang dhuafa disana. Makanya pas hari pertama agendanya ke Ito Yokado – mal 4 lantai yang lengkap dan mahal abeeees – gue gak beli apa-apa. Cuci mata sama kenalan delegasi negara lain paling.

Oh, iya. Agenda ini sekalian nunggu delegasi dari New Zealand yang belum datang. Pas di hotel sendiri cuma ada brief meeting, dan pembagian sweater, jaket serta parka berlabel JENESYS. Wee-hee!

Selama seminggu kedepan, delegasi tiap negara akan dicampur dan melaksanakan tur budaya, dalam 16 bus Country Mix ke penjuru Jepang. Gue dapat bus CM 5. Dan escort-nya ada Hiro-san (we called him Walking Japs Google, selalu excited dan ciri khasnya: boneka Snoopy), Miiko-san (dengan Bahasa Inggris yang smooth abis khas translator), juga Mao-san & Hikari-san (dua mahasiswa volunteers yang ceria dan gaulz pake z).

Jadi dimulailah the (mis)adventure of pelajarparuhwaktu in Japan.

Tokyo

Tempat pemberhentian pertama setelah Narita, karena stasiun kereta terdekat dan terbesar, Tokyo Station, ada disini. Layaknya kota metropolitan lainnya, Tokyo juga padat. Penuhnya lalu lalang orang pukul 9 pagi sudah cukup menggambarkan bahwa kota ini amat sibuk. Kami melewati beberapa jalan protokol seperti Ginza, one of the the most luxurious shopping districts in the world. Kenapa gue bilang luxurious? Karena Chanel, Gucci, dan Louis Vuitton ada disini. Salah satu objek yang menarik disini juga ada Imperial Palace yang luas banget, dikelilingi kolam buat mencegah penyusup.  Dan merupakan tempat tinggal Kaisar Akihito. Dan oh! Jangan lupa Tokyo Tower, menara 332.5 m yang sedikit lebih tinggi dari Eiffel. Berfungsi utama sebagai menara pemancar dan observasi. Ada dua observatory deck, dan yang pertama is such a perfect spot for sightseeing. Oh, hal lain yang keren: liftnya super cepat dan ada lampu diskonya! (gak penting woy!). Di dalamnya juga ada Department Store, Recreation Area dan Souvenir Shop. Elo bisa lihat seluruh penjuru Tokyo dari sini.

17.00 di Odaiba

Odaiba juga kami kunjungi, dan apa yang Hiro-san sebut famous dating stop. Dulunya ini teluk, tapi berhasil dijadikan daratan, pake teknologi-hibrid-apalah-gue-gak-ngerti sama pemerintah Tokyo. Buat kesana, kita naik flyover, yang juga dikenal sebagai Rainbow Bridge (cuma bisa dilihat kalau malam tapinya). Kerennya, flyover ini dibuat mengelilingi teluk, jadi kita bisa lihat seberapa sibuknya pelabuhan terbesar di Jepang ini.

Kyoto

Rombongan Biru (ngga keren, memang)

Di Kyoto, kami sempat ke Kiyomizu-dera, kuil Buddha di timur Kyoto, yang termasuk situs World Heritage-nya UNESCO. Dalam area yang luas, situs ini berisi air terjun, pagoda dan banyak pohon Momiji, dibangun diatas tebing-tebing tinggi, disokong ratusan pilar, dengan pemandangan fantastis. Ada peribahasa Jepang berkata “to jump off the stage of Kiyomizu (?????????????Kiyomizu no butai kara tobirioru), karena katanya kalau bisa selamat lompat dari ketinggian 13 m ini, keinginan elo bakalan dikabulkan. Dari zaman Edo, sekitar 400 orang pernah melompat dan 85%nya selamat, cuma patah kaki (cuma APA?!). Disini juga ada Jishu-jinja buat makcomblang (kok aneh kedengerannya ya?), Otowa no Taki, air mancur dengan tiga mata air dari gunung, yang kalau diminum (katanya) bagus buat kesehatan. Gue nyobain dan… rasanya rasa kolam.

Multirasial. Yang pojok kiri atas alien.

Nggak lupa, kami juga mampir ke Kinkaku-ji, kuil Buddha lainnya yang terbuat dari 100% emas murni. Pemandanganya sumpah keren abis, karena cahaya matahari dipantulkan oleh kuil itu, berpendar di sekeliling kolam. Tamannya berarsitektur kaiyuu-shiki, dimana elemennya hanya pepohonan, batu, semak dan bangunan kecil. Gue beli beberapa jimat disini (@ 500 yen. Dari dhuafa jadi superdhuafa :”( ).

Damn, udah sampai sini pun barang-barangnya mahal abeeeees. Gue cuma sempat ngerasain beberapa local delicacies, macam momiji manju (dan ternyata gak beda jauh sama kue cubit, haha). Dari negara lain ada yang beli macam-macam, kayak katana (dan Nazeer harus stuck di airport pas balik ke Malaysia) dan barang pecah belah. Gue? Phone strap dari Daiso cukup deh kayaknya.

Hiroshima

Di Hiroshima banyak banget situs yang kita kunjungin. Pertama ada Itsukushima-jinja, kuil Shinto di Miyajima. Buat mencapai Miyajima, kita harus naik kapal feri selama 15 menit. Ini salah satu hal yang gue salut. Sadar potensi wisata Miyajima yang tinggi, Pemerintah Jepang membuat satu pulau jadi resor eksotis. Ada pertokoan, hotel, gondola, bahkan rusa bebas lalu lalang disini. Kertas brosur gue sampai dimakan sama rusa. Lapar kali. Itsukushima-jinja sendiri terlihat seperti sacred place, jauh dari keramaian dan zaman dulu cuma kaisar yang boleh kesini. Berinterior merah (buat menolak iblis katanya), dan penuh artefak purifikasi. Sunset disini adalah yang TERINDAH yang pernah gue lihat. Oh, dan pulau ini terkenal karena centong nasi bermantranya.

Perjalanan diteruskan ke tengah Kota Hiroshima, ke Peace Memorial Park. Kami mengunjungi Peace Clock Tower (menara tiga pilar, yang setiap jam 8.15 AM berdentang untuk mengenang pemboman tahun 1945), Peace Bell (lonceng besar yang tiap bunyinya melambangkan kedamaian, bertuliskan Bahasa Yunani, Jepang dan Sansekerta), A-Bomb Dome (reruntuhan aula kota dekat hiposentrum ledakan, yang masih berdiri), Children’s Peace Monument (mengenang Sadako Sasaki, hibakusha yang wafat akibat leukimia, dipenuhi ribuan burung kertas) dan beberapa simbol lain.

Aghniadi
Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB 2014
Returnee JENESYS Short Program 2009 

Originally from here.

We Called it Home

Menginjakan kaki di Negara Coklat ini adalah Mimpi yang nyata. Negara unik yang memiliki tiga bahasa, dua daerah, dan satu nama, Belgia.

Hati saya memang menyatu sama Negara ini. saya merasa sangat nyaman, tempat dimanapun ketika kamu merasa nyaman, kamu pantas menyebutnya rumah. Disini cerita saya dimulai.
Saya tinggal di pinggiran kota Antwerp yang katanya kota paling modern dan fashionable di Belgia. Let me introduce my host family, saya memiliki Papa, Mama, Steven, Maarten dan Gert. Saudara angkat saya semuanya laki-laki dan umur kami tidak jauh berbeda, saya 17 tahun saat itu, mereka berumur 19, 18 dan 15, ga heran diawal kedatangan saya ke rumah, mereka malu-malu kucing, ah saya fikir hanya orang Indonesia saja yang pemalu.
Di Belgia kita makan roti sehari dua kali, pagi dan siang, dan makan malam berupa makanan panas yang dimasak. Awalnya saya tidak suka makan roti terus menerus, tapi ternyata enak juga dan makanan panas (yang dimasak) yang Mama masak selalu membuat saya lupa diri bahwa badan saya mempunyai kapasitas untuk menampung makanan. Ada yang lucu, kalau keluarga saya memasak daging babi, Mama selalu memasak daging Ayam di wajan lainnya. Memasak dua jenis makanan berbeda namun tetap makan malam bersama. Walaupun saya berbeda dengan mereka tapi kami tidak masalah akan hal itu, keren bukan.
Nah pernah ada pengalaman lucu tentang makanan, saya pernah membuat sop ayam menggunakan bumbu sop kemasan yang saya bawa dari Indonesia, mereka tidak suka, bukan karena tidak enak, bukan, tapi karena mereka menganggap aneh makan nasi dengan air. Saya juga pernah membuatkan pisang keju, untungnya mereka suka.
Saya sangat menyukai system sekolah di Belgia. Saya duduk di kelas 6 yang setara dengan kelas 3 SMA disana. Ada yang disebut honderd dagen yaitu 100 hari yang mana hari ke-100 sebelum lulus SMA kita bepergian kesekolah dengan kostum, jadi semua pelajar kelas 6 pergi kesekolah dengan kostum tanpa terkecuali. Teman saya ada yang memakai kostum unta, bergaya ala koki, ala koboy, seperti cat women, bahkan ada yang memakai baju tidur. Dan saya menggunakan kostum Zoro milik saudara laki-laki saya, ya, tidak ada kostum wanita dirumah, tentunya.
Setahun di negri orang cukup banyak membuat banyak perubahan pada diri saya, selain pengalaman tentunya. Saya memiliki rumah kedua. Summer kemaren (july 2011) saya kembali lagi mengunjungi keluarga saya di Belgia, dengan hanya bermodalkan diri, yes, mereka membiayai perjalanan saya. See? Tempat dimana kamu nyaman, you may call it home.

Mutia Solihin
Returnee Belgium Flanders 2008-2009
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran 201o