
Mengutip sebuah kutipan
A traveler without observation is like a bird without wings – Moslih Eddin Saad
membuat gue memutuskan harus mengabadikan perjalanan bersejarah bulan Desember lalu (walaupun ada sayap atau enggak gak bakal ngaruh juga). Yet I know it’s been superbly late to remember everything. Tapi mari kita coba
Bulan Desember lalu, selama tiga minggu (termasuk orientasi) gue dapat banyak banget pengalaman baru. I’ve met delegates all over the country, to represent Indonesia on an international event called ’07-’11 JENESYS Programme with AFS Japan. Tapi berhubung gue nomor ponsel sendiri aja lupa + jurnal gue hilang secara misterius, detil perjalanannya baru bisa gue publikasiin sekarang (tsk.. kayak ada yang peduli aja, Di!)
Oke. Jadi tanggal 3 Desember 2009, delegasi JENESYS Indonesia sampai di Narita International Airport. Menunggu escort dari AFS buat jemput kami ke hotel, yang menurut guide, Marroad International Hotel Narita. Wow. Salah satu escort-nya, Matoko, ternyata pernah pertukaran pelajar ke Yogyakarta, bahkan dikasih nama Dwi. Wow (lagi).
Dan ada perasaan nggak tergambarkan waktu pertama kali turun dari pesawat. Semburat senang, cemas, takut- dicampur jadi satu dalam waktu bersamaan.
Anyway, here I am. Pelajar SMA biasa. Dan ini adalah hari pertama gue menginjakkan kaki setelah 7 jam terbang nonstop, menuju Jepang.
Melihat dunia.
***
Kasta gue termasuk yang dhuafa disana. Makanya pas hari pertama agendanya ke Ito Yokado – mal 4 lantai yang lengkap dan mahal abeeees – gue gak beli apa-apa. Cuci mata sama kenalan delegasi negara lain paling.
Oh, iya. Agenda ini sekalian nunggu delegasi dari New Zealand yang belum datang. Pas di hotel sendiri cuma ada brief meeting, dan pembagian sweater, jaket serta parka berlabel JENESYS. Wee-hee!
Selama seminggu kedepan, delegasi tiap negara akan dicampur dan melaksanakan tur budaya, dalam 16 bus Country Mix ke penjuru Jepang. Gue dapat bus CM 5. Dan escort-nya ada Hiro-san (we called him Walking Japs Google, selalu excited dan ciri khasnya: boneka Snoopy), Miiko-san (dengan Bahasa Inggris yang smooth abis khas translator), juga Mao-san & Hikari-san (dua mahasiswa volunteers yang ceria dan gaulz pake z).
Jadi dimulailah the (mis)adventure of pelajarparuhwaktu in Japan.
Tokyo

Tempat pemberhentian pertama setelah Narita, karena stasiun kereta terdekat dan terbesar, Tokyo Station, ada disini. Layaknya kota metropolitan lainnya, Tokyo juga padat. Penuhnya lalu lalang orang pukul 9 pagi sudah cukup menggambarkan bahwa kota ini amat sibuk. Kami melewati beberapa jalan protokol seperti Ginza, one of the the most luxurious shopping districts in the world. Kenapa gue bilang luxurious? Karena Chanel, Gucci, dan Louis Vuitton ada disini. Salah satu objek yang menarik disini juga ada Imperial Palace yang luas banget, dikelilingi kolam buat mencegah penyusup. Dan merupakan tempat tinggal Kaisar Akihito. Dan oh! Jangan lupa Tokyo Tower, menara 332.5 m yang sedikit lebih tinggi dari Eiffel. Berfungsi utama sebagai menara pemancar dan observasi. Ada dua observatory deck, dan yang pertama is such a perfect spot for sightseeing. Oh, hal lain yang keren: liftnya super cepat dan ada lampu diskonya! (gak penting woy!). Di dalamnya juga ada Department Store, Recreation Area dan Souvenir Shop. Elo bisa lihat seluruh penjuru Tokyo dari sini.

Odaiba juga kami kunjungi, dan apa yang Hiro-san sebut famous dating stop. Dulunya ini teluk, tapi berhasil dijadikan daratan, pake teknologi-hibrid-apalah-gue-gak-ngerti sama pemerintah Tokyo. Buat kesana, kita naik flyover, yang juga dikenal sebagai Rainbow Bridge (cuma bisa dilihat kalau malam tapinya). Kerennya, flyover ini dibuat mengelilingi teluk, jadi kita bisa lihat seberapa sibuknya pelabuhan terbesar di Jepang ini.
Kyoto

Di Kyoto, kami sempat ke Kiyomizu-dera, kuil Buddha di timur Kyoto, yang termasuk situs World Heritage-nya UNESCO. Dalam area yang luas, situs ini berisi air terjun, pagoda dan banyak pohon Momiji, dibangun diatas tebing-tebing tinggi, disokong ratusan pilar, dengan pemandangan fantastis. Ada peribahasa Jepang berkata “to jump off the stage of Kiyomizu (?????????????Kiyomizu no butai kara tobirioru), karena katanya kalau bisa selamat lompat dari ketinggian 13 m ini, keinginan elo bakalan dikabulkan. Dari zaman Edo, sekitar 400 orang pernah melompat dan 85%nya selamat, cuma patah kaki (cuma APA?!). Disini juga ada Jishu-jinja buat makcomblang (kok aneh kedengerannya ya?), Otowa no Taki, air mancur dengan tiga mata air dari gunung, yang kalau diminum (katanya) bagus buat kesehatan. Gue nyobain dan… rasanya rasa kolam.

Nggak lupa, kami juga mampir ke Kinkaku-ji, kuil Buddha lainnya yang terbuat dari 100% emas murni. Pemandanganya sumpah keren abis, karena cahaya matahari dipantulkan oleh kuil itu, berpendar di sekeliling kolam. Tamannya berarsitektur kaiyuu-shiki, dimana elemennya hanya pepohonan, batu, semak dan bangunan kecil. Gue beli beberapa jimat disini (@ 500 yen. Dari dhuafa jadi superdhuafa :”( ).
Damn, udah sampai sini pun barang-barangnya mahal abeeeees. Gue cuma sempat ngerasain beberapa local delicacies, macam momiji manju (dan ternyata gak beda jauh sama kue cubit, haha). Dari negara lain ada yang beli macam-macam, kayak katana (dan Nazeer harus stuck di airport pas balik ke Malaysia) dan barang pecah belah. Gue? Phone strap dari Daiso cukup deh kayaknya.
Hiroshima

Di Hiroshima banyak banget situs yang kita kunjungin. Pertama ada Itsukushima-jinja, kuil Shinto di Miyajima. Buat mencapai Miyajima, kita harus naik kapal feri selama 15 menit. Ini salah satu hal yang gue salut. Sadar potensi wisata Miyajima yang tinggi, Pemerintah Jepang membuat satu pulau jadi resor eksotis. Ada pertokoan, hotel, gondola, bahkan rusa bebas lalu lalang disini. Kertas brosur gue sampai dimakan sama rusa. Lapar kali. Itsukushima-jinja sendiri terlihat seperti sacred place, jauh dari keramaian dan zaman dulu cuma kaisar yang boleh kesini. Berinterior merah (buat menolak iblis katanya), dan penuh artefak purifikasi. Sunset disini adalah yang TERINDAH yang pernah gue lihat. Oh, dan pulau ini terkenal karena centong nasi bermantranya.

Perjalanan diteruskan ke tengah Kota Hiroshima, ke Peace Memorial Park. Kami mengunjungi Peace Clock Tower (menara tiga pilar, yang setiap jam 8.15 AM berdentang untuk mengenang pemboman tahun 1945), Peace Bell (lonceng besar yang tiap bunyinya melambangkan kedamaian, bertuliskan Bahasa Yunani, Jepang dan Sansekerta), A-Bomb Dome (reruntuhan aula kota dekat hiposentrum ledakan, yang masih berdiri), Children’s Peace Monument (mengenang Sadako Sasaki, hibakusha yang wafat akibat leukimia, dipenuhi ribuan burung kertas) dan beberapa simbol lain.
Aghniadi
Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB 2014
Returnee JENESYS Short Program 2009
Originally from here.